Gandrung Sewu di Bumi Blambangan

Ratusan motor terparkir rapi di sebuah lapangan luas ketika saya dan tiga sahabat melintas di jalanan tepian Pantai Boom, Banyuwangi. Pun begitu dengan banyaknya pengunjung yang berjalan kaki menuju ke arah pantai. Tua muda, laki-laki perempuan semua tampak bersemangat mengayuhkan langkahnya, padahal jarak antara parkiran dadakan itu hingga ke pantai berjarak cukup jauh. Lumayanlah untuk mendukung gerakan seribu langkah per hari, hehehe…

Emang ada apa sih?! Hari itu Sabtu, tanggal 17 Nopember 2012 lalu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar event unik yang untuk kali pertama digelar di Bumi Blambangan. Acara bertajuk “Gandrung Sewu” itu menghadirkan 1000 lebih penari Gandrung yang akan menari bersama di pesisir Pantai Boom, dengan pasir pantai sebagai alasnya. Itulah alasan kenapa saya rela motoran dari Jember ke Banyuwangi. Acara begini nih yang kece, mengangkat budaya lokal ke taraf nasional bahkan internasional. Membayangkan bagaimana 1044 penari menarikan tarian yang sudah ada sejak jaman kolonial ini saja sudah membuat saya begitu antusias sejak keberangkatan dari Jember.

Paglak, tempat pemain musik tradisional beraksi

Acara Gandrung Sewu ini tentu saja digelar dengan tujuan untuk melestarikan kesenian Gandrung di kalangan muda Banyuwangi. Diharapkan kan nantinya para generasi muda kota dengan tagline “The Sunrise of Java” ini tetap mencintai seni budaya asli mereka. Nah selain itu, acara ini juga diharapkan dapat memperkenalkan Tari Gandrung ke level yang lebih tinggi dan dapat menarik minat kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Acara ini diliput banyak media lho, gak hanya media lokal namun juga media nasional semacam Metro TV.

Langkah ringan sayapun akhirnya membawa tubuh seberat 67 kg ini sampai ke lokasi acara. Dataran berpasir pantai hitam yang luas dengan sebuah panggung cukup besar dikelilingi dengan tenda-tenda tamu undangan. View-nya?! Tentu saja Selat Bali yang tenang, langit biru cerah dan sedikit bagian Pulau Bali di seberang lautan. Well, kesan pertama keren yak, panitia punya ide brilliant dengan mencari venue yang tidak biasanya.

Tidak hanya mata yang dimanjakan dengan view lautan, indera pendengaran pengunjungpun juga dibuat terlena dengan alunan musik dari bambu yang sekilas mirip dengan musik tradisional Bali. Sekitar lima orang ditempatkan di atas sebuah gubug mungil tinggi, disebut Paglak, sambil memainkan alat musik pukul yang terbuat dari bambu. Hmmm… That was very nice athmosphere…

Waktu itu jam 14.45 WIB, tapi penonton yang datang sudah membludak! Memang jadwal resmi sih acara dimulai pukul 3 sore, namun seperti jam Indonesia kebanyakan, acaranya molor sampai jam 4 sore. Apalagi kalau bukan menunggu tamu undangan VVIP datang.

Begitu suara alunan gamelan dan sinden berkumandang, penonton non undangan yang semula berdiri lumayan rapi di belakang dan samping tenda undangan, langsung merangsek ke tepian arena pementasan. Terlalu antusias mungkin, mengingat pagelaran akbar ini adalah yang pertama. Hal itu tentu saja menghalangi pandangan para tamu undangan yang sudah berdandan necis (rapi) dan berharap bisa nonton dengan duduk nyantai sambil makan cemilan dari panitia. Semuanya terjadi cepat! Pihak keamanan yang jumlahnya gak seberapa tentu kewalahan menghadapi massa segitu banyaknya. Melihat kejadian tersebut, MC sempat menghentikan acara beberapa saat hingga penonton lumayan bisa “dijinakkan”.

This! Ini penampakan di depan saya ketika berada di tenda undangan

Setelah insiden kecil tersebut, acara dilanjutkan kembali. Saya dan seorang sahabat dari Jember yang semula dapet kursi di tenda undangan, akhirnya lebih memilih duduk lesehan di atas pasir beralaskan sendal. Sumprit! Dari posisi saya, acara lebih dapat dinikmati daripada tetep bersikukuh duduk nyaman di bawah tenda.

Jadi sahabat, Gandrung Sewu ini semacam pagelaran sendra tari. Di dalamnya tidak hanya dipentaskan Tari Gandrung, namun penonton diajak mengetahui sejarah asal-usul tarian tersebut sejak jaman VOC. Tari Gandrung sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sekitar 1800-an. Konon sih, tarian ini semula ditarikan oleh kaum pria yang berdandan layaknya perempuan dan menjadi mata-mata Indonesia di setiap pesta yang diadakan VOC. Musik pengiringnya menggunakan gamelan campuran Jawa dan Bali serta biola. Namun, sekitar tahun 1890-an, Tari Gandrung pria mulai ditinggalkan, diduga karena ajaran Agama Islam yang melarang pria berdandan ala  wanita. Penari terakhirnya bernama Marsan dan karena itu, Tari Gandrung yang dimainkan oleh seorang pria dinamakan Gandrung Marsan.

Setelah adegan drama VOC, keluarlah sekitar 1044 penari Gandrung wanita. Buset! Keren gilaaakkk!! Sumprit! Hehehehe… Lapangan mendadak berubah merah menyala karena kostum penari yang eye catching. Ribuan penari itu berasal dari siswi sekolah se-Kabupaten Banyuwangi, mulai SD sampai SMA, ditambah dengan beberapa penari profesional. Sahabat saya berkata bahwa tarian Gandrung memang diajarkan di sekolah-sekolah mulai setingkat SD. Salutlah ya, masih ada kabupaten yang mengajarkan tarian khas daerah di tiap sekolah.

Saat ini, Gandrung sudah biasa dipertontonkan di acara-acara besar, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, acara tujuh belasan dan acara besar lainnya.

Terlepas dari insiden penonton, saya salut terhadap penyelenggaraan acara Gandrung Sewu ini. Dari menontonnya, saya bisa mengetahui sejarah Gandrung dan melihat beberapa kesenian Banyuwangi sekaligus, seperti Jaranan Buto, Barongan, Tari Seblang (penarinya kerasukan roh dan menari santai sepanjang acara), Gandrung Marsan, gamelan Banyuwangi dan tentunya Tari Gandrung sendiri.

Macet gelak setelah acara! Satu jam an lebih stucked di jalanan Pantai Boom

Memang ini adalah acara yang kali pertama diadakan dan panitia tentunya masih belum punya gambaran seperti apa pelaksanaan di hari-H. Menurut sudut pandang saya sih, hal yang paling rawan ketika itu adalah tidak adanya kontrol di pintu masuk undangan, jadi penonton bisa keluar masuk seenaknya, dengan atau tanpa kartu undangan.

Yah, semoga acara kece ini bisa menjadi agenda tahunan Banyuwangi. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang dan konsep acara yang selalu diperbarui agar penonton gak bosen lah ya… :D

Author:Andreas Setiawan

Seorang banker yang doyan makan, hobi ngayap dan bengong-bengong bego menikmati sunset.

4 Responses to “Gandrung Sewu di Bumi Blambangan”

  1. hardian
    November 26, 2012 at 7:37 pm #

    kagum jg saya samx seorang shbt sy satu ini (gk pke ress),msh muda yg punya kepedulian trhdp budaya dan pariwisata bangsa,,,, thx bro ygsudah mau menulis ttg gandrung sewu,gk rugi menyelundupkan km diantara undangan,,,,hahahz,,,,tengkyu so much,,, proud,,,#salaman

    • November 26, 2012 at 10:18 pm #

      hahay… ketahuan kalo saya juga hasil selundupan! XD Terima kasih kak, semoga acara kece ini bener-bener bisa menjadi agenda tahunan Banyuwangi dan semakin memperkenalkan Gandrung ke dunia internasional :)

  2. November 28, 2012 at 9:09 am #

    Whoaaa keren banget!
    1000 lebih penarinya? Whoaaaa

Leave a Reply