Sate Klathak : Bantul Has A Different Taste of Satay

Deru motor Honda keluaran tahun 2000-an memecah keheningan malam jalanan lengang menuju arah Jl. Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Kala itu, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sengaja saya memalak seorang sahabat yang tinggal di Jogja untuk mengantar berkeliling menikmati malam dan mencoba kuliner baru, tentu saja. Gak tau diri yes?! Sedikit sih, tapi toh sahabat saya tetep bersedia menghampiri saya di parkiran sebuah hotel yang terletak di kawasan Malioboro, hahaha… (semoga gak terpaksa).

20121103_231223

Karena mendengar sebutan “Sate Klathak” dari seorang kawan baru dalam sebuah bus yang mengantar saya kembali ke Jogja dari Gunungkidul, otomatis saya minta diantar untuk mencicipi sate yang katanya wajib icip setiap kamu ke Jogja. Jadi selepas nangkring, eh nongkrong di sebuah angkringan, kita cuss ke arah Imogiri.

Udara dingin Jogja selepas hujan kala itu berhasil membuat kantuk saya hilang dan berganti dengan rasa penasaran, membayangkan seperti apa rasa sate klathak ini. Begitu memasuki Jl. Imogiri, di sepanjang jalan banyak berjajar depot yang bertuliskan “Sate Klathak” di depannya. Jangan heran, sate klathak memang menjadi sajian khas di wilayah ini. Jadi depot-depot tadi menjajakan sajian yang sama, terserah kalian mau masuk ke depot yang mana, semuanya kembali ke selera masing-masing.

IMG_7099

Bukannya parkir di sebuah depot, namun sahabat saya memilih mengarahkan motornya masuk ke dalam sebuah pasar, Pasar Jejeran namanya, berlokasi di Jl. Imogiri Timur. Tidak nampak depot atau warung di dalam sana. Yang saya lihat hanyalah seorang bapak penjual sate klathak yang duduk di belakang perabot minimalis miliknya. Seolah-olah, bapak tadi cuma ngemper di sebuah petak pasar yang kosong ketika malam menjelang.

“Kenapa milih disini Ho, bukannya di depot-depot sepanjang jalan raya tadi?!”, tanya saya ke sahabat.

“Rasa sate disini lebih cocok di lidahku…”, jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Oke, saya yakinlah dengan pilihan seorang yang doyan makan dan sangat menguasai Jogja dan sekitarnya. Well, malam itu kami memesan dua porsi sate klathak beserta nasi putih hangat, seporsi tongseng dan dua gelas teh hangat.

Bahan-bahan Tongseng

Bahan-bahan Tongseng

Sebenernya apa sih sate klathak itu?! Sate klathak adalah sate yang berasal dari daging kambing muda. Dinamakan “klathak” konon katanya berasal dari bunyi daging yang dibakar di atas bara api. Beda sate ini dengan sate kebanyakan adalah penjual baru mengiris daging ketika ada pesanan. Jadi bagian tubuh kambing digantung begitu saja, persis di pasar daging. Begitu ada pesanan, si penjual menyayat daging tadi dan mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil.

Yang unik selanjutnya dari sate yang dibakar di atas tungku ini adalah potongan dagingnya gede-gede, kemudian ditusuk menggunakan jeruji besi dari velg sepeda motor. Apa?! Iya, mereka tidak menggunakan lidi atau bambu untuk menusuk daging, namun menggunakan besi. Mungkin dikarenakan ukuran daging yang besar sehingga perlu besi untuk mematangkan daging tersebut secara maksimal hingga ke bagian dalam.

Belum cukup disitu, cara pengolahan sate inipun berbeda dengan sate kebanyakan. Yang saya maksud adalah dari segi bumbu. Jika sate “konvensional” menggunakan bumbu beraneka ragam serta kecap ketika dibakar, namun tidak untuk sate klathak. Para penjual sate klathak hanya melumuri daging kambing muda itu dengan garam dan sedikit merica, sudah itu doank! Hemmm… Melihat proses awalnya saja begitu menarik, lalu bagaimana dengan rasanya…?!

IMG_7103

Setelah menunggu sambil ngobrol dengan bapak penjual serta mengamati prosesnya dari awal, sate pesanan sayapun terhidang di atas tikar. Aroma daging yang dibakar langsung menyeruak hidung. Tampilannya segede gaban, tidak heran jika seporsi sate klathak hanya terdiri dari dua tusuk sate. Rasa original daging kambing muda begitu terasa, karena hanya dibumbui garam dan merica. Teksturnya juga lembut. Mungkin sekilas mirip kambing guling ya, selain adanya beberapa bagian yang gosong efek bakaran. Menurut saya sih, jika makan sate ini saja dengan nasi putih tanpa adanya menu pendamping, rasanya kurang nendang. Beruntung si Hoho memesan seporsi tongseng. Yah walopun saya gak makan jeroan kambing yang terendam di dalamnya, kuah tongseng yang berbumbu dan sedikit pedas mampu menjadi paduan yang mantab ketika menikmati sate klathak ini.

IMG_7106

Nah, bagi kalian yang bosan dengan gudheg ketika berkunjung ke Jogja, sajian ini bisa menjadi alternatif pilihan di kala malam hari. Lokasinyapun hanya berjarak sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Jogja. Jadi, gak ada salahnya mencoba sate yang “abnormal” ini. Salam kuliner!

 

Sate Klathak Pak Yabid

Pasar Jejeran, Jl. Imogiri Timur, Yogyakarta

Jam operasional 19.00-01.00 WIB

Harga :

Sate Klathak (seporsi 2 tusuk) Rp 10.000,00

Tongseng Rp 10.000,00

Nasi Putih Rp 3.000,00

Teh Hangat Rp 2.000,00

Tags: ,

Author:Andreas Setiawan

Seorang banker yang doyan makan, hobi ngayap dan bengong-bengong bego menikmati sunset.

7 Responses to “Sate Klathak : Bantul Has A Different Taste of Satay”

  1. January 23, 2013 at 3:20 pm #

    Jadi malam-malam pulang dari Gunungkidul masih sempat keluyuran Mas Andre? Terbayar dong ya penasarannya. Mendengar namanya saya ikut penasaran..Tapi setelah melihat penampakannya, yah penasaran saya agak memudar hahahaha

    • January 23, 2013 at 3:29 pm #

      haha… bagi saya, selama masih ada waktu selama ngetrip itu wajib untuk eksplor bu. Kenapa kok agak memudar?! Gara” gosong dimana?! Atau ngeliat jeroan kambing yang bakal dijadikan tongseng?! lol

  2. January 24, 2013 at 8:52 am #

    Wuiih bikin laper nih yg ngeliatnya.. itu besi satenya ga panas mas kan bekas di panggang ?

  3. February 11, 2013 at 2:34 pm #

    Saya 1 bln yg lalu juga dr jogja dan sempat menikmati sate klatak di imogiri. Awalnya agak sangsi ama rasanya, koq ga dilumuri bumbu kacang. ternyata setelah dihidangkan dan di”santap”, oh ternyata…rasanya mak yuss…Kuahnya itu yang bikin sate klatak jadi sipp! Hanya saja memang porsinya tergolong sedikit,jd buat yang doyan makan, yaa pastiinya kurang :)

    Btw, saya pernah baca, kenapa dipilih besi velg sepeda, krn waktu membakar sate klatak, panasnya bisa measuk ke dalam daging, jadi dagingnya terasa tekstur dan lebih empuk…

    duh, ngomongin ini, jadi lapar :)

    Salam kenal aja mas Andreas…saya suka blognya :)

    • February 12, 2013 at 8:55 am #

      Iya, sate ini memang “down to earth” ya mas, hehehe… Bumbunya teramat minimalis. Enak sih, tapi kalo saya pribadi lebih cocok sate dengan bumbu kacang. Mungkin karena sudah terbiasa hidup di daerah sate berbumbu kacang… :D

      Btw, salam kenal juga Mas Praz, terima kasih sudah berkunjung… :)

  4. Febri
    May 7, 2014 at 1:36 pm #

    Mantap Andre nyongs.marai kepengen..apik ndre ulasanmu.jempol..

Leave a Reply