Menyantap Hidangan Serba Tuna Di Warles Mertha Sari

“Nanti mau makan apa Ndre?!”, sebuah pertanyaan khas seorang sahabat ketika saya berkunjung ke kotanya menjadi sapaan pembuka pagi itu. Ketika saya baru saja terbangun dari tidur minim selama dua jam setelah perjalanan panjang dari Banyuwangi menuju kota ini, Denpasar.

Gak tau Ji, kita cari aja warung makan yang searah dengan rute nanti…”, jawab saya sekenanya. Jujur, saat itu saya gak punya tujuan khusus mau makan apa dan dimana. Saya hanya fokus agenda di Ubud, lokasi tujuan saya saat itu. Sedangkan rumah Aji, sahabat baru saya, terletak di Denpasar, dekat dengan Legian.

Ehmm… opo yo Ndre?! Nanti kita ke Tenganan dulu kan ya?! Kalo gitu makan di warung ikan itu aja, deket Goa Lawah. Disana rame banget Ndre. Aku pernah makan disana beberapa kali, rasanya enak, harganya yo gak mahal-mahal banget...”, begitu saran si Aji. Sayapun mengiyakan saja…

20140301_092003_1

Kita bermotor menuju Tenganan, melewati Kabupaten Klungkung. Aji bermotor sendirian, sedangkan saya dan Hoho, sahabat lama yang saat itu mengajak ke Ubud, berboncengan mengendarai motor matic sewaan seharga Rp 40rb/hari. Cuaca Bali yang saat itu bikin berkeringat, ditambah hampir memasuki jam makan siang, membuat kita semangat memacu motor untuk segera sampai di warung makan yang dimaksud oleh si Aji.

Beberapa ratus meter sebelum Goa Lawah, Aji sebagai pemandu jalan membelokkan motornya ke kiri, masuk ke sebuah jalanan desa yang lebih sempit. Sekitar seratus meter setelah memasuki Jalan Pesinggahan tersebut, di sebelah kanan nampak sebuah warung makan khas Bali yang berukuruan cukup besar. Di depannya ada spanduk merah bertuliskan “Warung Lesehan MERTHA SARI Masakan Ikan Laut Khas Pesinggahan”.

20140301_093748_1

Aroma ikan laut yang dibakar langsung menyeruak hidung begitu kami melangkahkan kaki memasuki warung itu…

Ruangan yang cukup luas, dengan sirkulasi udara yang cukup baik karena kanan, kiri, depan, belakang gak terhalang oleh kokohnya tembok menjadikan makan di warung ini begitu nyaman. Bisa dipastikan juga, warung makan ini milik orang asli Bali. Atap yang beraksen Bali, tembok dari batu bata merah tanpa polesan, tiang penyangga yang dililit kain kotak-kotak hitam, serta lokasi yang gak bersih-bersih banget benar-benar mBali menurut saya. Di ruangan depan ini ada belasan dipan untuk pengunjung yang ingin makan dengan cara lesehan. Sedangkan di ruang belakang disediakan meja dan kursi makan.

“Mau pesan untuk berapa orang?”, sapa seorang pelayan yang menghampiri sesaat setelah kami duduk di salah satu dipan.

“Tiga orang mbak…”, jawab si Aji.

“Minumnya?”, tanya si mbak pelayan lagi.

“Dua es jeruk, satu air mineral…”, giliran saya yang menjawab.

Si mbak pelayan langsung meninggalkan kami begitu saya menjawab pesanan minuman. Seketika itu pula saya bertanya dalam hati, “Emang disini menunya apa aja?! Kok mbak tadi gak ngasih menu seperti di tempat makan yang lain…”. Ternyata sob, warung makan ini hanya menyediakan beberapa jenis makanan saja dan semuanya tersedia dalam satu paket. Jadi ketika kamu memesan satu porsi, ya kamu bakal dapat semua jenis hidangan yang ada disini.

20140301_092143_1

Sambil menunggu pesanan datang, kamu bisa berkeliling warung. Di samping ada karyawan yang sedang membungkus pepes ikan dan membakar sate lilit. Atau jika pengen ngemil dulu sebelum makan makanan berat, di dekat counter kasir, ada berbagai jenis makanan ringan.

Tidak lama berselang, mbak pelayan tadi menghampiri dipan kami sambil membawa nampan yang berisi berbagai macam menu. Ada nasi putih, plecing kangkung dan kacang panjang, sepiring kacang tanah goreng, sate lilit, sate ikan, pepes ikan, semangkuk kecil sup ikan dan sambal matah. Tidak lupa dua gelas es jeruk yang terlihat begitu menyegarkan dan sebotol air mineral ukuran sedang pesanan Hoho.

20140301_092516_1

Kalau diitung-itung, porsi seharga tiga puluh ribuan untuk seorang itu terdiri dari nasi putih, plecing, sambal matah, semangkuk sup ikan, serta masing-masing dua sate lilit, sate ikan biasa dan pepes ikan. Pfiuuhh, mengenyangkan nampaknya ya…

Tuna…tuna…dan tuna…!

Cuaca yang panas membuat mata saya langsung tertuju pada sup ikan yang tersaji dalam mangkuk berukuran kecil berwarna oranye. Slurrrppp… Kuahnya seger penuh bumbu sob! Ada sedikit rasa pedas yang menggelitik lidah. Ditambah potongan daging ikan tuna yang gak kecil-kecil amat menambah kelezatan sup ini. Cocok dinikmati saat cuaca terik seperti saat itu.

Untuk sate lilitnya seperti sate lilit kebanyakan yang ada di restoran Bali lainnya. Daging ikan tuna yang juga lembut dililitkan ke sebuah batang bambu. Rasa sereh dan kemiri begitu dominan ketika daging tuna bakar ini bersentuhan dengan indera perasa. Hmmm…

Lain sate lilit, lain pula sate ikan yang biasa. Jika sate lilit, daging ikan dihaluskan bersamaan dengan bumbu khas Bali, sate ikan diolah lebih sederhana. Potongan daging ikan tuna kotak-kotak ditusuk menggunakan tusukan sate dan dibakar di atas bara api. Setelahnya, sate ikan dibumbui kecap. Jadi rasanya manis gurih…

Pepesnya gimana Ndre?! Rasanya gak jauh beda dari sate lilit menurut saya. Daging tuna dihaluskan, dicampur bumbu (bawang merah, jahe, sereh, cabe, kemiri, dll), kemudian dibungkus daun pisang dan dibakar di atas bara api.

20140301_093811_1

Sambal Matah khas Bali langsung membuat keringat mengucur deras…

Ini nih yang paling saya suka dari warung yang pernah diulas New York Times di tahun 2009 lalu, sambal matah!! Ya, sambal matah disini sedep bangettttt…!! Juara…!! Jarang-jarang saya demen makan bawang merah dan sereh yang diiris kasar. Tapi disini saya kalap! Menyantap berbagai olahan ikan tuna tadi dan plecing semakin joss jika dipadukan dengan sambal matah ini. Weeewww…

Semua hidangan ludes hanya dalam waktu setengah jam saja. Pengunjungpun semakin ramai, mengingat jam sudah semakin siang. Nampak beberapa riders Harley Davidson memasuki warung dan beberapa diantaranya menyebut, “Loloh… Saya loloh dingin satu”.

“Loloh apaan Ji?”, tanya saya ke Aji. Mungkin dia tahu, mengingat sudah cukup lama dia tinggal di Bali.

“Aku yo gak ngerti Ndre…”. Jiaaaahhh, sama aja, hahaha…

Karena penasaran, saya bertanya ke salah satu bapak yang memesan Loloh. Ternyata, Loloh itu kata lain jamu, fungsinya untuk penghilang panas dalam dan melancarkan pencernaan kata si bapak.

PhotoGrid_1394942115029_1

Baiklah, gak ada salahnya memesan sebotol Loloh demi menuntaskan rasa penasaran. Glek…glek…glek… Rasa Loloh Cem-cem ini asem-asem gimanaaa gitu. Mungkin kalau di Jawa mirip Sinom lah ya. Minuman yang berasal dari daun asem. Nah, kalau Loloh Cem-cem ini berasal dari daun kedondong. Menurut komposisi yang ada di belakang botol, minuman ini terdiri dari daun cem-cem, air, gula dan garam. Di dalamnya sendiri masih terdapat kelapa muda. Ehm, tahu begitu, saya tadi pesan ini sebagai pendamping makan siang saya yang serba tuna. Seger banget diminum ketika siang hari.

Nah, bagi kalian yang menuju Padang Bay atau hendak berkunjung ke Goa Lawah, gak ada salahnya untuk makan siang di warung lesehan yang juga pernah dikunjungi Ibu Megawati dan Sukmawati Soekarno Putri ini…

 

WARUNG LESEHAN MERTHA SARI

Jl.Pesinggahan, Kec. Dawan, Kab. Klungkung, Bali

Telp. 0366 23985, 081 805 511 219

Tags: ,

Author:Andreas Setiawan

Seorang banker yang doyan makan, hobi ngayap dan bengong-bengong bego menikmati sunset.

5 Responses to “Menyantap Hidangan Serba Tuna Di Warles Mertha Sari”

  1. April 21, 2014 at 8:11 am #

    Anjritttttt … pagi2 di bikin ngiler ama sate lilit + sambel mata nya. Beberapa tahun lalu perna makan pula disini dan rasa nya lumayan makjleb bikin kangen sambel mata nya

  2. May 4, 2014 at 9:45 am #

    Tenganan, disana kayaknya ada semacam desa adat kalo g salah. Opo aku salah yo

  3. July 16, 2014 at 2:48 pm #

    Hai mas. :)
    Tampaknya lezat sekali. Jika boleh tahu berapa ya range harganya?

Leave a Reply